Ilmu tentang Kegagalan – Sebuah Pengantar


 

semoga bacaan ini bermanfaat bagi kita semu,Amin…

image001

Seorang pembaca mengomentari tulisan penulis tentang sebab jatuhnya sang goliat otomotif GM, bahwa produksi yang kurang efisien dibandingkan produk Jepang seperti Toyota adalah alasannya. Memang apa yang dikomentari pembaca tersebut tidak salah, namun lebih tepat lagi kalau disebutkan bahwa penyebab jatuhnya adalah banyak faktor, seperti produksi yang kurang efisien, tingginya gaji buruh GM, gaya hidup mewah para top manajer (gaji dan bonus besar, tetap memakai pesawat jet meskipun di masa krisis ekonomi), beban biaya lain-lain yang tinggi (dalam hal ini biaya kesehatan dan pensiun), lemahnya inovasi produk baru, dan, yang menjadi fokus tulisan penulis kemarin, yaitu ketidakmampuan membaca perkembangan zaman yang makin menuntut produk yang hemat BBM sekaligus juga ramah lingkungan.

Adalah menarik juga menganalisa peristiwa tersebut dengan kacamata Ilmu tentang Kegagalan (Study of Failure), atau dalam istilah Jepangnya ’shippaigaku’ (shippai=gagal, kegagalan, gaku=ilmu). Penulis lebih senang memakai istilah Jepang ini, karena ilmu ini memang dipopulerkan oleh orang Jepang.

Hukum Heinrich (Heinrich’s Law)

Studi tentang sebab-sebab kegagalan atau kecelakaan sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Yang terkenal adalah sebuah laporan yang ditulis oleh Herbert William Heinrich pada tahun 1929. Bekerja di perusahaan asuransi Amerika Serikat, dia meneliti data statistik jumlah kecelakaan kerja yang terjadi dari sekitar 550 ribu data. Akhirnya dia menyimpulkan bahwa di balik 1 kecelakaan fatal ada 29 kecelakaan kecil, dan di baliknya lagi ada 300 kecelakaan nyaris (peristiwa nyaris celaka). Inilah yang disebut dengan Hukum Heinrich [1]. Inti dari hukum ini adalah suatu kecelakaan besar yang fatal pada dasarnya merupakan kumpulan dari beberapa kecelakaan kecil, atau lebih tepat dikatakan kecerobohan kecil. Maka, seandainya kecerobohan kecil ini bisa ditanggulangi sejak awal, kecelakaan besar tersebut bisa tercegah.

gambar2

Hukum Heinrich

‘Shippaigaku’

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Takashi Tachibana, seorang kolumnis Jepang mengomentari studi yang dilakukan oleh Yotaro Hatamura, seorang profesor teknik mesin di The University of Tokyo. Hatamura ’sensei’ (artinya guru atau orang yang dianggap berilmu) sendiri mendalami bidang desain dan teknologi ‘nano design’. Hatamura sensei mulai tertarik mendalami ’shippaigaku’ ketika menulis buku tentang desain mesin, khususnya buku ketiganya yang membahas tentang kegagalan desain[2]. Setelah itu Hatamura sensei dan beberapa murid-muridnya mengumpulkan beberapa fenomena kegagalan/kecelakaan yang terjadi di bidang teknik, juga beberapa hal-hal penting yang bisa menjadi petunjuk untuk pembelajaran dan perbaikan di masa depan, dan membuatnya menjadi sebuah buku yang khusus membahas tentang ’shippaigaku’[3].

image003

Prof. Yotaro Hatamura

Misalnya tentang sebab kegagalan/kecelakaan, hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor: ketidak-tahuan, ketidak-pedulian, kelalaian, kesalahan prosedur, kekurangan data, problem organisasi, dll. Beberapa contoh kecelakaan besar dijadikan contoh kasus seperti kebocoran reaktor nuklir Chernobil tahun 1986 dan hancurnya jembatan Takoma tahun 1940, dll. Kebocoran reaktor nuklir Chernobil yang membuat heboh itu, terjadi karena banyak sebab: desain reaktor yang kurang baik, sistem pengamanan yang lemah, tidak sampainya informasi kelemahan reaktor kepada operator di lapangan dll. Sementara hancurnya jembatan Takoma misalnya praktis karena faktor ketidak-tahuan. Jembatan Takoma ini hancur karena fenomena osilasi teralan mandiri (self excited oscillation) oleh angin, yang saat itu relatif belum dikenal.

Secara ide kelihatannya sederhana, namun hal ini adalah usaha pertama kali untuk merangkum berbagai kecelakaan/kegagalan/kasus dan sebab-sebabnya secara sistematis yang dirangkum dalam sebuah buku. Karena itu, tidak lama setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris[3], buku ini banyak mendapat penerimaan yang positif dari kalangan internasional.

Pengalaman Kegagalan

Hatamura sensei tertarik menjadikan ’shippaigaku’ sebagai bahan pembelajaran ketika menemukan para mahasiswa kuliahnya kurang berminat mendengarkan penjelasan tentang bagaimana cara desain yang baik, tetapi sangat antusias ketika dijelaskan tentang contoh-contoh kegagalan dalam desain. Penulis sendiri sangat beruntung pernah mendapatkan kuliah langsung dari Hatamura sensei ketika kuliah S1. Hatamura sensei pernah menjelaskan satu pengalaman kegagalannya yang sangat berkesan. Suatu hari murid-muridnya heran mengapa untuk menguji kekuatan material logam cukup dengan melakukan uji tarik (tensile test), mengapa tidak dengan uji kompresi (compression test). Maka dicobalah untuk melakukan uji kompresi. Ternyata ketika dilakukan, material logam tersebut hancur dan terbang dengan kecepatan sangat cepat yang lintasannya nyaris mengenai  dirinya dan murid-muridnya, yang tentunya sangat membahayakan nyawa. Setelah pengalaman kegagalan itu, Hatamura sensei menjadi sangat perhatian dalam masalah keselamatan.

Perluasan Bidang Aplikasi

Setelah buku tentang ’shippaigaku’ ditulis, mulailah konsepnya diterima banyak kalangan, yang kemudian berlanjut dengan didirikannya Asosiasi Ilmu tentang Kegagalan (ASF, Association for the Study of Failure)[4] pada tahun 2002. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan database tentang kegagalan (Failure Knowledge Database)[5]. Yang perlu diperhatikan, data-data kegagalan itu tidak semua perlu dimasukan ke dalam database, cukup beberapa contoh yang dijadikan pelajaran, mengingat kadang-kadang ada kemiripan antara satu dengan yang lainnya. Meskipun awalnya dikhususkan untuk teknik mesin, ’shippaigaku’ ini diperluas wilayahnya ke bidang teknik lainnya seperti teknik kimia, nuklir dll, bahkan juga masuk ke bidang manajemen, mengingat ada beberapa kecelakaan/kegagalan yang disebabkan kesalahan di pihak manajemen.

Aplikasi di Indonesia

Ilmu ini sangat penting diterapkan di Indonesia. Banyak kasus-kasus kecelakaan dan kegagalan seperti kecelakaan pesawat udara, kecelakaan kereta api, kegagalan mengatasi banjir tahunan, dll. Dalam beberapa kasus, mungkin masih bisa dimaklumi seandainya kecelakaan/kegagalan itu merupakan peristiwa yang pertama kali alias penyebabnya murni faktor ‘ketidak-tahuan’, namun kalau mengamati perkembangan berita, kebanyakan yang terjadi di Indonesia adalah karena faktor ‘kelalaian’ atau ‘ketidak-pedulian’. Banyak di antaranya adalah kecelakaan yang seharusnya bisa dicegah seandainya punya kemauan. Di mana ada kemauan, di sana ada jalan!

Saya CopasTema ini dari salah satu block dan saya bermaksud untuk menyimpannya dan berbagi kepada teman teman yang suka dengan membaca..