KISAH HIDUP AKIO MORITA : SANG BAPAK PENDIRI SONY CORPORATION (1)


 

Saat ini sedang heboh-hebohnya kasus gugatan Sony Inc terhadap seorang blogger bernama Sony yang dituduh memiliki nama yang sama dengan domain situs mereka. Nah, di kisah hidup kali ini. Akio Morita sang pendiri Sony akan bercerita tentang awal mula bagaimana perusahaanya berdiri dan bagaimana nama Sony tercipta di benaknya.

kisah ini sangat inspiratif dan mengandung makna yang besar. Patut bagi siapapun untuk merenungi jikalah perjalanan hidup itu selalu dimulai dengan berputar seperti bumi. Selamat membaca. Agnes Davonar

Mungkin Anda Iebih mengenainya sebagai “bapak” perusahaan Sony. Sony lahir setelah Jepang kalah perang habis-habisan. Apa kiatnya sampal perusahaan elektronlk itu bisa tumbuh dan melesat ke seluruh dunia?

Menurut ukuran Jepang rumah ayah saya besar sekali. Di halamannya ada lapangan tenis. Keluarga Toyoda yang rumahnya berseberangan dengan kami mempunyai lapangan tenis pula, seperti semua tetangga kami yang lain. Daerah tempat tinggal kami , Shirakabecho di Nagoya, mendapat julukan ‘jalan orang kaya’.

Keluarga kami sudah 300 tahun menjadi pengusaha sake (arak beras) yang paling bermutu yang diberi merek Nenohimatsu. Kami juga membuat kecap dan miso (semacam tauco) yang tidak terpisahkan dari menu sehari-hari orang Jepang.

 

Belajar Menjadi Bos

Ibu saya baru berumur 17 tahun ketika menikah dengan Ayah. Orang tua saya harus menunggu 7 tahun sebelum saya lahir sebagai anak sulung tanggal 26 Januari 1926. Mereka sampai sempat khawatir tidak mempunyai keturunan. Padahal, memiliki anak laki-laki penting sekali bagi orang Jepang masa itu. Kemudian saya mendapat dua adik laki-laki dan seorang adik perempuan.

Ibu saya pendiam, artistik, dan lembut. Untuk ukuran jepang masa itu, ia sangat mandiri. Pendidikan saya sangat diperhatikannya, walaupun ia tidak seperti ibu-ibu zaman sekarang yang menjejalkan pelbagai kursus kepada anaknya. la penuh pengertian dan lebih mudah diajak berbicara daripada Ayah yang hidupnya didaulat perusahaan.

Ibu selalu mau menerima hal-hal yang baru. Walaupun tetap mengenakan kimono, ia banyak mengubah tradisi keluarga kami. Pada saat orang lain masih tidur di tatami, saya sudah tidur di ranjang. Saya mempunyai kamar sendiri dan. meja belajar sendiri. Bahkan juga meja kerja, ketika saya sudah senang melakukan pelbagai percobaan. Ayah dan ibu memang ingin saya berpikiran modern dan sejak kecil saya dipersiapkan untk menggantikan Ayah sebagai pemimpin perusahaan keluarga Morita.

Ketika masih berumur 10 — 1 1 tahun, saya sudah dibawa Ayah ke kantor dan juga ke pabrik untuk melihat cara kerja perusahaan kami. Saya harus duduk di samping Ayah dalam rapat-rapat perusahaan, padahal rapatnya lama dan membosankan sanalah saya tahu bagaimana caranya berbicara dengan karyawan dan juga tentang apa yang dibicarakan dalam diskusi bisnis.

Kemudian, ketika saya remaja, liburan sekolahsaya ditelan oleh bisnis, bisnis, bisnis. Kewajiban yang ditimpakan Ayah kepada saya dalam siapkan saya sebagai penggantinya bahan pertengkaran di antara kami. melatih saya untuk berpikir dan argumen secara logis.

Saya sering diberi tahu bahwa kelak saya akan langsung menjadi bos sebab saya putra sulung. “Namun, jangan mengira mentang-mentang bos kamu bisa menyuruh orang seenakmu,” pesan Ayah. “Kamu harus tahu dengan jelas apa yang akan kamu lakukan dan apa yang kamu minta agar dilaksanakan oleh manajermu. Kamu harus bertanggung jawab penuh atas semuanya.”

“Menyalahkan bawahan dan mencari kambinghitam tidak ada gunanya,” kata Ayah. Menurut ajaran

Jepang yang saya terima di rumah, kita harus memanfaatkan motivasi bersama untuk mencapai tujuan yang menguntungkan atasan maupun bawahan sebab semua orang ingin sukses.

Selama belajar bekerja sama dengan para karyawan, saya sadar manajer harus belajar bersabar dan penuh pengertian. Manajer tidak boleh melakukan tindakan yang mementingkan din sendiri atau menjadi pemberang. Konsep-konsep itu tertanam pada saya dan membantu mengembangkan falsafah manajemen yang sangat menolong di masa lampau maupun masa kini.

Setelah dewasa, saya sering tidak tahan pada kekonservatifan Ayah dalam bisnis. Walaupun orangnya praktis, di mata saya ia terlalu lamban membuat keputusan. la juga selalu mencemaskan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dicemaskan. Namun, sebagai ayah ia penuh kehangatan. la mengajar kami here- nang, memancing, dan mengajak kami berolahraga jalan.

Walaupun konservatif, ia senang teknologi baru dan produk asing. Semasa saya kecil, kami bukan hanya memiliki mobil buatan Amerika, tetapi juga memakai mesin cuci buatan General Motor dan lemari pendingin Westinghouse.

Kalau bekerja, Ayah memakai pakaian barat. Bahkan kakek saya sering mengenakannya. Kakek senang menonton film barat dan saya pernah diajaknya menyaksikan “King Kong”. Pengaruh barat yang paling besar datang dan Paman yang bersekolah di Prancis selama 4 tahun.

Ayah dan Kakek sering berkata “Uang sebanyak apa pun tidak bisa dipakai membeli pendidikan. Pendidikan harus kita tuntut sendiri. Uang hanya bisa memberikan satu jenis pendidikan yaitu pendidikan yang diperoleh dengan melihat dunia.”

Karena itulah, ketika masih di sekolah menengah saya diongkosi pergi ke seluruh Jepang, Korea, serta Manchuria bersama teman sekelas.

Gara-gara Ibu Senang Musik Ibu senang sekali mendengarkan musik barat klasik dan fonograf yang ketika itu banyak diganggu bunyi kresek-kresek. Pengeras suaranya seperti corong. Ketika muncul fonograf baru, Ayah membelinya walaupun harganya setengah harga mobil buatan Jepang. Suaranya jauh lebih bagus dan saya pun ingin tahu bagaimana cara membuat benda sehebat itu.

 

Seorang kerabat kami, insinyur berhasil membuat fonograf sendiri sehingga saya datang ke rumahnya untuk meminta keterangan. Saya pun membeli buku-buku tentang elektronika dan berlangganan majalah dalam maupun luar negeri yang menjelasian penemuan-penemuan baru dalam bidang reproduksisuara dan radio.

Begitu tergila-gilanya saya pada barang elektronik sehingga prestasi saya merosot di sekolah. Ibupun sering dipanggil.Sebetulnya saya pandai matematika, fisika, dan

kimia, tetapi selalu mendapat nilai di bawah rata-rata untuk ilmu bumi, sejarah, dan bahasa Jepang. Aki batnya saya didudukkan di baits depan bersama anak. anak bodoh supaya bisa diawasi terus oleh guru. Sementara itu di rumah, saya dilarang Ibu mengotak-atik alat-alat elektronik. Saya terpaksa menurut. Keti ka nilai saya sudah naik lagi, saya mulai lagi dengan hobi saya dan nilai di sekolah pun merosot lagi.

Kadang-kadang percobaan saya gagal, sampai saya merasa frustrasi walaupun tidak pemahjera mencoba lagi.

Pelajaran sekolah bagi saya membosankan, walaupun saya selalu mendapat nilai terbaik untuk fisika. Guru yang paling besar pengaruhnya terhadap saya adalah Prof. Hattori yang memperkenalkan saya kepada Prof. Asada, ahli sains terapan di Universitas Osaka yang modem. Ayah kecewa saya memilih fisika sebab ia ingin saya belajar ekonomi atau kimia pertanian sebagai persiapan memegang kendali perusahaan keluarga.

Saya masuk perguruan tinggi di masa perang dan berusaha melakukan riset sebanyak-banyaknya di laboratorium universitas yang dijadikan tempat penelitian Angkatan Laut. Namun, saya sering membolos kuliah karena kuliah terasa membosankan.

Pada rnasa itu, Prof. Asada mengisi kolom sains

di surat kabar. Kalau ia terlalu sibuk, saya menggantikan tugasnya.

Mertua Sampai Dibawa-bawa

Saya terpaksa masuk AL., belajar berbaris, dan dipekerjakan sebagai buruh kasar di pabrik. Saya pikir saya bisa gila kalau begim terus. Untunglah beberapa minggu kemudian ada yang menyadari bahwa saya salah tempat. Saya pun dipindahkan ke laboratorium optik dan disuruh menemukan cara mencegah kerusakan pada foto-foto udara. Saya berhasil setelah membongkar naskah di perpustaan dan melakukan peibagai percobaan di laboratorium Laporan untuk AL itu kemudian saya jadikan skripsi saya.

Setelah menerima pangkat letnan, saya dimasukkan ke kelompok khusus yang terciri atas ahli riset ketiga angkatan bersenjata maupun sipil yang bertugas menemukan alat-alat pencari panas. Saya harus sering menghadiri rapat dengan para profesor terkemuka dan para perwira. Kami diminta mengemukn pendapat masing-masing. Pada saat itulah saya merasakan manfaat latihan manajemen yang saya terima di rumah.

Sahabat kental saya masa itu ialah Masaru yang 13 tahun lebih tua dan saya. Ia mantan Universitas Waseda. Ibuka pernah membuat amplifier yang bisa mendeteksi kapal selam yang 30 m di bawah permukaan air.

Seusai perang, Prof. Hattori meminta saya mengajar di Institut Teknologi Tokyo. Saya pun menggalang kembali persahabatan dengan Ibuka yang memproduksi pesawat penerima gelombang pendek sambil bekerja paruh waktu padanya.

Bulan Maret 1946 kami berniat mendirikan per- usahaan sendiri. Namun, saya menghadapi masalah.

Bukankah saya mengemban tugas meneruskan perusahaan keluarga? Akhirnya, Ibuka mengajak Tamon Maeda, mertuanya, untuk “meminta” saya kepada Ayah. Meminta putra Sulung bukanlah Urusan main-main dalam kehidupan orang Jepang

 

Kata Ayah, ia mengharapkan saya menerus usaha keluarga. “Namun, kalau putra saya ingin melaksanakan usaha lain untuk mengembangkan dirinya atau memanfaatkan kemampuannya, ia bebas melakukannya,” sambungnya. Adik saya, Kazuaki, yang sedang belajar di Universitas Waseda bersedia menggantikan saya meneruskan usaha keluarga kalau Ayah kelak pensiun. Semua orang merasa lega.

Ibuka dan saya sering membicarakan konsep perusahaan kami. Kami ingin membangun perusahaan yang ‘cerdas’, menjadi inovator yang menghasilkan produk teknologi tinggi secara kreatif. Sekadar membuat radio tidak memenuhi ideal kami walaupun radio banyak diminta. Lagi pula, menurut Ibuka, perusahaan besar penghasil radio tidak lama lagi akan pulih dan luka-luka perang.

Untuk bisa tetap hidupsebelum mampu membuat barang-barang hebat sesuai dengan idealisme kami – kami membuat dulu suku cadang untuk radio dan fonograf. Maklum masa itu radio dan fonograf yang baru belum muncul lagi di pasaran, padahal orang haus hiburan dan musik jazz bawaan serdadu AS mulai disukai. Perusahaan besar pasti tidak mau membuat suku cadang untuk barang lama.

Untuk mendirikan Tokyo Tsushin Kogyo, kami berhasil mengumpulkan uang AS $ 500. Tidak lama kemudian modal itu sudah habis dibelanjakan. Kami pun terpaksa meminjam uang kepada Ayah. la percaya pada masa depan kami dan masa depan perusahaan kami, jadi ia tidak pernah mendesak kami ntuk membayar utang. Padahal setelah perang, harta keluarga kami menyusut karena tanah pertanian yang luas disita pemerintah, belum lagi kami dipukul pajak yang sangat tinggi.

Semasa perang, Ayah yang terbiasa memakai mobil bersopir harus menggenjot sepeda. Setelah perang, pembantu pun kami tidak punya sehingga ibu harus melakukan sendiri pekerjaan rumah tangga.

“Malah baik untuk kesehatanku,” katanya. Saya kira ia benar. Ia sudah senang perusahaan kami masih utuh dan ketiga putranya selamat dan bencana perang.

Ternyata pinjaman yang diberikan oleh Ayah kelak terbukti merupakan penanaman modal yang bijaksana sekali sebab ia menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan kami yang kemudian berkembang pesat.

 

Pemimpin Tertinggi Merangkap sopir

Sekarang kita kembali ke masa perusahaan kami baru berdiri. Kebetulan pejabat pendudukan melarang bekas tentara menjadi guru sehingga saya bisa sepenuhnya bekerja di perusahaan kami yang berkedudukn di Toserba Shirokiya yang sebagian runtuh kena bom.

Kemudian kami pindah ke bagian paling tua Kota Tokyo, lalu pindah lagi ke gubuk kayu yang sudah bobrok di Gotenyama, sebuah bukit di tepi selatan kota. Atapnya bocor sehingga di atas meja tulis senng harus dipasang payung. Di sekeliling kami cuma terdapat reruntuhan bekas korban born.

Untuk masuk ke ruang-ruang kantor, kami harus membungkuk di kolong talijemuran. Ketika seorang kerabat saya datang, ia begitu kaget sehingga mengadu kepada Ibu, “Jangan-jangan Ia menjadi anarkis.” Soalnya, buat apa saya bekerja di tempat seperti itu kalau bisa hidup enak sebagai putra presiden direktur perusahaan yang sudah mapan?

Kami membeli truk Datsun tua dengan harga AS $ 100. Karena cuma Ibuka dan saya yang mempunyai SIM, maka walaupun kami merupakan pemimpin tertinggi di perusahaan, kamilah yang menjadi pengantar barang dan tukang berbelanja bahan. Tugas eksekutif kami meliputi pula memuat barang ke truk dan mengengkol mesin truk kalau tidak bisa hidup.

Di zaman sulik bensin itu, bahan bakar kendaraan bisa oli bekas, batu bara, bahkan sampah. Tidak heran kalau selain bising, jalan-jalan penuh asap dan berbau.

Ketika sedang mengerjakan unit siaran bagi radio Jepang, NHK, untuk pertama kalinya Ibuka melihat sebuah tape recorder. Ia nekat meminjam benda buatan AS itu untuk dipelajari. Pihak NHK enggan namun mereka akhirnya membawa juga benda itu ke kantor kami untuk didemonstrasikan. Kami optimis bisa membuat benda serupa, kecuali akuntan kami – yang dipinjamkan oleh Ayah untuk membantu mengurus keuangan kami. ibuka dan saya mencekokinya dengan alkohol di sebuah restoran dan di bawah pengaruh minuman keras barulah ia memberi persetujuan.

Membuat tape recorder ternyata tidak semudah kami kira. Komponen mekanis dan elektroniknya bukan masalah bagi kami, tetapi pitanya itu yang tidak kami pahami. Kami tidak mempunyai plastik, padahal selofan tidak memadai. Setelah mencoba pelbagai bahan dan alat sampai yang hampir tidak masuk akal, akhirnya kami berhasil juga. Kami terus mengembangkan pembuatan pita rekaman. Pada tahun 1965, IBM memilih pita kami untuk merekam data komputernya. Bahkan para ahli kami ditempatkan di perusahaan mereka di Colorado.

Tape recorder buatan tahun 1950 itu besar dan beratnya 35 kg! Namun, kerjanya bagus. Tadinya kami kira, begitu berhasil membuat barang bagus, pasti kami akan kebanjiran pesanan. Kenyataannya tidak.

Saat itu di Jepang hampir tidak ada orang yang tahu apa itu tape recorder. Orang yang tahu dan yang senang tidak merasa perlu memilikinya. Apalagi, masa itu tidak banyak orang yang memiliki cukup uang untuk membeli barang yang tidak mendesak kebutuhan.

Saya pun insaf, mampu membuat produk yang unik dan baik saja belum cukup. Kami perlu bisa menjualnya dan untuk itu kami perlu meyakinkan calon-calon pembeli betapa besarnya manfaat benda itu bagi mereka.

Menuju Dunia Baru

Kamj pun berbagi tugas. Ibuka akan memusatkan perhatian pada produk, sedangkan saya akan belajar men- jualnya. Menurut pengamatan mertua Ibuka, seusai perang, pengadilan dan pelbagai lembaga lain sangat kekurangan tenaga stenografer. Berkat mertua ibuka yang bekas menteri itu, kami bisa mendemonstasikan manfaat tape recorder pada Mahkamah Agung Jepang yang segera memborong 20 dan 50 unit yang kami miliki.

Kedatangan AS membukakan mata kami bahwa belajar lewat audio visual sangat penting, begitupun komunikasi verbal. Kementerian Pendidikan Jepang menginsafinya, tetapi apa daya kalau yang ada cuma film-film 16 mm dengan soundtrack berbahasa Inggris, padahal tidak banyak orang muda yang paham bahasa Inggris. Kami pun menawarkan alat kami supaya bisa dipakai merekam suara untuk mengiringi film-film itu. Kami tahu mereka mempunyai anggaran untuk membelinya. Gagasan itu menyebar ke seluruh negara dan kami pun merancang alat yang lebih kecil yang harganya terjangkau oleh anggaran setiap sekolah. Saya mendapat hadiah alat itu ketika menikah dengan Yoshiko Kamei tahun 1951.

Gagasan-gagasan barn akhirnya diterima.Jepang memang sedang membangun masyarakat baru, bukan membangun kembali yang lama.

Perusahaan kami bertambah besar. Perjuangan kami juga bertambah, berhubungan dengan pembelian hak paten, dengan pengacara yang mewakili lawan dan sebagainya.

Cita-citanya Mengekspor ke AS

Sudah sejak mendirikan perusahaan, Ibuka dan saya bercita-cita memasarkan produk kami ke pasar internasional. Tahun 1952, pasaran tape recorder sangat baik. Ibuka pergi ke AS untuk melihat kemajuan orang lain dan belajar. Ia hampir tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi itu bukan masalah baginya. Ternyata ketika itu penggunaan tape recorder di sekolah-Sekolah

 

Jepang sudah lebih luas daripada di AS. Ternyata pula, tidak ada perusahaan tape recorder yang mau membukakan pintu pabrik mereka untuk tamu.

Walaupun demikian perjalanan itu banyak gunanya bagi kami. Ibuka mengetahui bahwa lisensi untuk alat ajaib yang bernama transistor yang ditemukan oleh Bell Laboratories pada tahun 1948, tidak lama lagi akan bisa diperoleh. Kami pun membuat rencana untuk mempergunakannya dalam radio.

Saat itu kami sudah mempunyai 120 karyawan, sepertiganya lulusan perguruan tinggi. Ada ahli elektronika, metalurgi, kimia, dan mesin. Membuat transistor merupakan tantangan bagi mereka. Ketika berada di AS, sebenarnya Ibuka sudah berusaha meminta kesediaan pemegang paten transistor untuk bertemu dengan kami. Karena perusahaan kami kecil dan belum terkenal, baru setahun kemudian persetujuan paten ditandatangani.

Untuk penandatanganan itu saya pergi ke AS. Saya merasa agak gamang melihat betapa luasnya AS dan betapa ukuran-ukuran di sana serba besar. Keadaan di AS jauh berbeda dengan di Jepang. Saya jadi sangsi: bisakah kami menjual produk kami di AS? Apalagi, pada masa itu ekonomi sedang bagus sehingga tampaknya setiap orang AS sudah memiliki segala-galanya. Di Jepang, kami dihambat oleh Kementerian Perdagangan dan Industri Internasional (MITI) untuk mengeluarkan uang AS $ 25.000 sebagai pembayaran pada Bell Labs sebab devisa sedang langka sedangkan MITI tidak bisa melihat kegunaan transistor. Untuk meyakinkan MITI, Ibuka memerlukan waktu 6 bulan

 

epilog :

Akio Morita = Sawah Yang Subur

Dalam keluarga kami, setiap putra sulung diberi namaTsunesuke seperti kakek saya atau Hikotaro seperti ayah saya. Kalau tiba saatnya untuk mengepalai perusahaan keluarga, mereka berganti nama menjadi Kyuzaemon.

Sebagal putra sulung,saya mestinya kebagian namaTsunesuke,tetapi menurut ayah nama itu terlalu kuno. Jadi, Ia lalu memanggil seorang cendekiawan yang menyarankan nama Akio. ‘Aki’ artinya’ber.. cahaya’. Kalau digandengkan dengan ‘Morita’ artinya sawah subur , nama saya memberi kesan optimisme.

 

Juragan Kecap dan Sake

Di tempat asalnya, desa Kosugaya, nenek moyang sayaselalu menjadi pemuka masyarakat dan terkenal cinta pembaharuan. Kyuzaemon ke- I I pernah mendatangkan ahil Prancis untuk menolongnya bercocok tanam anggur dan membuat minuman dan buah itu. Kaisar Meiji yang hidup di zamannya memang menganjurkan rakyat belajar dan barat.

Tanaman anggur Kyuzaemon ke- I I dimusnahkan wabah yang terbawa dan Prancis sehingga usahanyagagal,tetapi sake dan kecapnya muncul dalam pameran internasional di Paris pada tahun I 899. Salah satu produk itu bahkan memenangkan medali emas.

Ia juga mendirikan pabrik roti yang kini bernama Pasco dan makmur sampai sekarang, bahkan mempunyal cabang di luar negeri.

Nenek moyang saya itu bukan hanya ingin mempelajari hal-hal baru, tetapi juga mempunyai keberanian dan kekuatan tidak putus asa kalau gagal. Ketabahan, kegigihan, dan optimismenya rupanya menurun.

Ia mempergunakan uangnya untuk membangun

jalan-jalan dan sarana kesejahteraan rakyat di Kosugaya sehingga Kaisar Meiji memberinya bintang.

Kakek buyut saya dan kakek saya mempergunakan sebagian besar uang dan waktunya untuk mensponsori seniman, pengrajin, dan pedagang barang-barang seni. Begitu cintanya mereka pada keindahan sampai perusahaan keluarga mereka terlantar.

Ketika Ayah masih belajar ekonomi di Universitas Keio di Tokyo, Ia dipanggil pulang untuk menyeIamatkan perusahaan keluarga yang terancam bang-krut.Terpaksa ía pulang untuk menghadapi kenyataan hidup yang jauh Iebih sulit daripada memecahkan kasus dan buku teks.

Ayah merasa tidak bisa mengandalkan para manajer yang ada, jadi Ia mengambil aIih kemudi perusahaan. Ketika saya lahir sebagal anak sulungnya, perusahaan keluarga Morita sudah kokoh lagi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s